Minggu, 30 April 2017

kesulitan mebelajarkan kimia diSMA/SMP

                Seorang guru kimia SMA/MA dipersyaratkan mempunyai kompetensi dalam bidang akademis yang cukup kompleks. Hal yang harus dimiliki guru kimia dalam kompetensi profesional, diantaranya adalah: 1) memahami konsep-konsep, hukum-hukum, dan teori-teori kimia yang meliputi struktur, dinamika, energetika, dan kinetika serta penerapannya dan 2) kreatif dan inovatif dalam penerapan dan pengembangan bidang ilmu kimia dan ilmu-ilmu yang terkait (Permendiknas No. 16/2007). Kedua macam kompetensi ini menuntut penguasaan dan pemahaman konten kimia yang mendalam bagi guru. Selanjutnya karena apa yang yang siswa pelajari sangat dipengaruhi oleh cara siswa diajar oleh gurunya (NRC,1996:28) maka cara mengajar guru atau pengetahuan pedadogis guru tidak bisa dipisahkan dari konten materi yang diajarkan.
                Materi yang sulit dalam cara mengajarkannya pada umumnya yang bersifat abstrak seperti struktur atom dan bentuk molekul, kemudian konsep yang banyak mengandung perhitungan, dan materi hafalan seperti kimia unsure . secara keseluruhan materi yang dianggap sulit dalam hal mengajarkannya menurut  guru dan calon guru adalah stoikiometri, larutan, struktur atom, kimia unsur dan redoks dan elektrokimia.
                Kecenderungan siswa adalah tidak mampu menghubungkan level abstrak kimia dari struktur atom dan bentuk molekul (level mikroskopik) dengan level simbolik, serta makroskopik. Siswa belum mamahami secara menyeluruh. Siswa cenderung memaknai simbol kimia hanya sebagai simbol kimia. Aspek kuantitatif juga menjadi penyebab kesulitan belajar kimia karena kurangnya pemahaman secara mendalam akan konsep-konsep kimia dan keterampilan matemati. Berbagai konsep kuantitatif seperti masa molekul, konsentrasi molar, volum molar, Ph , dan kesetimbangan kimia menjadi begitu sulit bagi siswa.aspek-aspek kuantitatif tersebut didasarkan dari konsep mol. Peserta didik belum memahami konsep mol secara menyeluruh pada level makroskopik, mikroskopik serta simbolik.
                Kesulitan siswa dalam memahami kimia erat kaitannya dengan multipel level representasi yang digunakan dalam menggambarkan dan menjelaskan fenomena-fenomena kimia.kesulitan-kesulitan tersebut menjadikan peserta didik tidak menguasai materi kimia sepenuhnya. Penguasaan peserta didik terhadap konsep kimia seharusnya dapat ditunjukkan oleh kemampuan mentransfer dan menghubungkan antara tiga level makroskopik, submikroskopik dan simbolik.


Menurut teman-teman bagaimana cara kita sebagai calon guru untuk mengatasi kesulitan membelajarkan kimia pada siswa?

Selasa, 11 April 2017

Quantum Teaching Learning Model



1.Pengertian
Kata Quantum berarti interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Jadi, Quantum Teaching menciptakan lingkungan belajar yang efektif, dengan cara menggunakan unsur yang ada pada siswa dan lingkungan belajarnya melalui interaksi yang terjadi di dalam kelas.
Quantum Teaching adalah ilmu pengetahuan dan metodologi yang digunakan dalam rancangan, penyajian, dan fasilitas Supercamp yang diciptakan berdasarkan teori-teori pendidikan seperti Accelerated Learning (Luzanov), Multiple Intelligence (Gardner), Neuro-Linguistic Programming (Ginder dan Bandler), Experiental Learning (Hahn), Socratic Inquiry, Cooperative Learning (Johnson and Johnson), dan Elemen of Effective Intruction (Hunter).
Quantum Teaching dapat diartikan sebagai pendekatan pengajaran untuk membimbing peserta didik agar mau belajar. Menjadikan sebagai kegiatan yang dibutuhkan peserta didik. Di samping itu untuk memotivasi, menginspirasi dan membimbing guru agar lebih efektif dan sukses dalam mengasup pembelajaran sehingga lebih menarik dan menyenangkan. Dengan demikian, diharapkan akan terjadi lompatan kemampuan peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran yang dilakukan.
2.    Karakteristik
a.    Berpangkal pada psikologi kognitif
b.    Bersifat humanistik, manusia selaku pembelajar menjadi pusat perhatian. Potensi diri, kemampuan pikiran, daya motivasi dan sebagainya dari pembelajar dapat berkembang secara optimal dengan meniadakan hukuman karena semua usaha yang dilakukan pembelajar dihargai. Kesalahan sebagai manusiawi.
c.    Bersifat konstruktivistis, artinya memadukan, menyinergikan, dan mengolaborasikan faktor potensi diri manusia selaku pembelajar dengan lingkungan (fisik dan mental) sebagai konteks pembelajaran. Oleh karena itu, baik lingkungan maupun kemampuan pikiran atau potensi diri manusia harus diperlakukan sama dan memperoleh stimulant yang seimbang agar pembelajaran berhasil baik.
d.   Memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna. Dalam proses pembelajaran dipandang sebagai penciptaan intekasi-interaksi bermutu dan bermakna yang dapat mengubah energi kemampuan pikiran yang dapat mengubah energi kemampuan pikiran dan bakat alamiah pembelajar menjadi cahaya yang bermanfaat bagi keberhasilan pembelajar.
e.    Menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi. Dalam prosesnya menyingkirkan hambatan dan halangan sehingga menimbulkan hal-hal yang seperti: suasana yang menyengkan, lingkungan yang nyaman, penataan tempat duduk yang rileks, dan lain-lain.
f.     Menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran. Dengan kealamiahan dan kewajaran menimbulkan suasana nyaman, segar sehat, rileks, santai, dan menyenangkan serta tidak membosankan.
g.    Menekankan kebermaknaan dan dan kebermutuan proses pembelajaran. Dengan kebermaknaan dan kebermutuan akan menghadirkan pengalaman yang dapat dimengerti dan berarti bagi pembelajar, terutama pengalaman perlu diakomodasi secara memadai.
h.    Memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran. Konteks pembelajaran meliputi suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang mendukung, dan rancangan yang dinamis. Sedangkan isi pembelajaran meliputi: penyajian yang prima, pemfasilitasan yang fleksibel, keterampilan belajar untuk belajar dan keterampilan hidup.
i.      Menyeimbangkan keterampilan akademis, keterampilan hidup dan prestasi material.
j.      Menanamkan nilai dan keyakinan yang positif dalam diri pembelajar. Ini mengandung arti bahwa suatu kesalahan tidak dianggapnya suatu kegagalan atau akhir dari segalanya. Dalam proses pembelajarannya dikembangkan nilai dan keyakinan bahwa hukuman dan hadiah tidak diperlukan karena setiap usaha harus diakui dan dihargai.
k.    Mengutamakan keberagaman dan kebebasan sebagai kunci interaksi. Dalam prosesnya adanya pengakuan keragaman gaya belajar siswa dan pembelajar.
l.      Mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran, sehinga pembelajaran bisa berlangsung nyaman dan hasilnya lebih optimal. [4]
Paradigma dan Prinsip Quantum Teaching and Learning
1.    Paradigma
Dalam belajar model Quantum Learning agar dapat berjalan dengan benar paradigma yang harus dianut oleh siswa dan guru adalah sebagai berikut :
a.  Setiap orang adalah guru dan sekaligus murid sehingga bisa saling berfungsi sebagai fasilitator.
b.  Bagi kebanyakan orang belajar akan sangat efektif jika dilakukan dalam suasana yang menyenangkan, lingkungan dan suasana yang tidak terlalu formal, penataan duduk setengah melingkar tanpa meja, penataan sinar atau cahaya yang baik sehingga peserta merasa santai dan relaks.
c. Setiap orang mempunyai gaya belajar, bekerja dan berpikir yang unik dan berbeda yang merupakan pembawaan alamiah sehingga kita tidak perlu merubahnya dengan demikian perasaan nyaman dan positif akan terbentuk dalam menerima informasi atau materi yang diberikan oleh fasilitator.
d. Modul pelajaran tidak harus rumit tapi harus dapat disajikan dalam bentuk sederhana dan lebih banyak kesuatu kasus nyata atau aplikasi langsung. [6]
2. Prinsip dari Quantum Teaching, yaitu:
a. Segalanya berbicara
Semua yang ada di lingkungan kelas baik didalam maupun diluar kelas semuanya mengirimkan pesan tentang pembelajaran. Dalam hal ini guru dituntut untuk mampu merancang/mendesai segala aspek yang ada dilingkungan kelas (guru, media pembelajara dan siswa) maupun diluar kelas (guru lain, kebun sekolah, kantin sekolah dll) sebagai sumber belajar bagi siswa
b.Segalanya bertujuan
Semua yang terjadi dalam proses belajar mengajar mempunyai tujuan. Dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan dalam proses beajar mengajar harus memiliki tujuan. Dan tujuan tersebut harus dijelaskan kepada siswa.
c.Pengalaman sebelum konsep
Proses belajar paling baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh konsep untuk apa yang mereka pelajari. Dalam proses belajar mengajar harus dilakukan dengan cara memberikan tugas terlebih dahulu kepada siswa ataupun memberikan informasi sedikit tentang apa yang akan dipelajari. Dengan begitu siswa dapat mengambil kesimpulan sendiri. Guru harus mampu merancang pembelajaran yang mendorong siswa untuk melakukan penelitian sendiri dan berhasil menyimpulkan. Dalam hal ini guru harus menciptakan simulasi konsep agar siswa memperoleh pengalaman.
d. Akui setiap usaha
Menghargai usaha siswa sekecil apa pun. Siswa patut mendapatkan pengakuan atas prestasi dankepercayan dirinya. Guru harus mampu memberi penghargaan/pengakuan pada setiap usaha siswa. Jika usaha siswa jelas salah, guru harus mampu memberi pengakuan/penghargaan walaupun usaha siswa salah dan secara perlahan membetulkan jawaban siswa yang salah. Jangan mematikan semangat siswa untuk belajar.
e. Jika layak dipelajari, layak pula dirayakan, kita harus memberi pujian pada siswa yang terlibat aktif pada pelajaran kita. Perayaan dapat memberi umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan asosiasi positif dengan belajar Dalam hal ini guru harus memiliki strategi untuk memberi umpan balik positif yang dapat mendorong semangat belajar siswa. Berilah umpan balik positif pada setiap usaha siswa, baik secara berkelompok maupun secara individu. [7]
E. Implementasi Quantum Teaching and Learning
1.    Teknik-teknik Quantum teaching and learning
a.    Teknik AMBAK
Teknik ini menekankan bagaimana sedapat mungkin bisa menghadirkan perasaan dalam diri siswa bahwa apa yang mereka pelajari akan memberikan manfaat yang besar.
Teknik AMBAK, meneunjukkan kepada kita betapa Quantum Teaching lebih menekankan pada pembelajaran yang sarat makna dan sistem nilai yang bisa dikotribusikan kelak saat anak dewasa nanti.
b.    Teknik TANDUR
c.    Teknik ARIAS
Pembelajaran dengan teknik ARIAS terdiri dari lima komponen (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, dan Satisfaction) yang disusun berdasarkan teori belajar.
d.   Teknik PAKEM
PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertnyakan, dan mengemukakan gagasan. Jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar.
menurut anda apakah model pembelajaran kuantum ini dapat diterapkan pada sekolah dan kendala apa yang terjadi pada proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran kuantum?

Jumat, 07 April 2017

Bentuk Kearifan Lokal Etnokimia di Bumi Pusako Betuah Negeri jambi





Etnokimia (ethnochemistry) adalah studi kimia dari sudut pandang budaya : Bagaimana kimia itu telah membentuk sebuah kebudayaan dan bagaimana kebudayaan turut berkonstribusi pada ilmu pengetahuan dan perubahannya. Informasi mengenai etnokimia ini dapat diperoleh salah satunya dari eksplorasi penggunaan tanaman (flora), baik sebagai pangan ataupun obat-obatan. Studi etnokimia menggabungkan pemahaman turun-temurun di masyarakat (opini) dengan ilmu sains (fakta ilmiah) mengenai efektivitas tanaman-tanaman tersebut yang dianggap berperan sebagai obat maupun bahan aditif pangan berdasarkan senyawa kimia yang terkandung dalam tanaman serta peran dari senyawa kimia tersebut. Melalui studi lebih lanjut etnokimia ini maka akan dapat memperluas pemahaman sains yang berkaitan dengan kebudayaan.
Salah satu contohnya yaitu kunyit dan jahe  yang dapat digunakan sebagai obat tradisional alternatif karena alat dan bahan yang diperlukan cukup sederhana dan mudah didapat, seperti: jahe, kunyit.

Masyarakat Rantau Rasau II Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi telah menggunakan kunyit dan jahe  sebagai obat tradisional sakit kepala sejak dahulu sekali tidak bisa dipastikan tahun berapa masyarakat sekitar menggunakan obat tradisioanal ini dan penggunaan obatnya pun telah turun-temurun dari generasi ke generasi hingga masih dapat digunakan hingga saat ini.
Kunyit adalah salah satu jenis rempah yang sudah tak asing bagi masyarakat Rantau Rasau II. Mayarakat percaya kunyit bisa meredakan sakit kepala dengan sangat baik. Karena Zat curcumin yang ada di dalamnya bekerja sebagai zat anti-peradangan yang terbukti bisa melemaskan otot untuk mencegah sakit kepala.kunyit bahkan bisa memberikan efek yang lebih baik dibandingkan obat-obatan atau ibuprofen yang dijual secara bebas. Salah satu kelebihan kunyit dibanding obat adalah karena kunyit tak menyebabkan efek samping apapun. Caranya yaitu kunyit dan jahe digiling halus kemudian diletakan diatas kain putih yang sudah dipotong kemudian digulung selanjutnya kain yang diisi kunyit dan jahe diikatkan pada kepala yang sakit.selain untuk obat sakit kepala kunyit dan jahe dapat digunakan sebagai obat Meredakan arthritis , Memperbaiki pencernaan, Menurunkan berat badan.