Jumat, 26 Mei 2017

penelitian tindakan kelas pembelajaran kimia


PTK sangat bermanfaat bagi guru untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran di kelas. Dengan melaksanakan tahap-tahap PTK, guru dapat menemukan solusi dari masalah yang timbul di kelasnya sendiri, bukan kelas orang lain, dengan menerapkan berbagai ragam teori dan teknik pembelajaran yang relevan secara kreatif. Selain itu sebagai penelitian terapan, disamping guru melaksanakan tugas utamanya mengajar di kelas, tidak perlu harus meninggalkan siswanya. Jadi PTK merupakan suatu penelitian yang mengangkat masalah-masalah aktual yang dihadapi oleh guru di lapangan. Dengan melaksanakan PTK, guru mempunyai peran ganda : praktisi dan peneliti.
Mengapa Penelitian Tindakan Kelas Penting ?
1. PTK sangat kondusif untuk membuat guru menjadi peka tanggap terhadap dinamika pembelajaran di kelasnya.
2.PTK dapat meningkatkan kinerja guru sehingga menjadi profesional.
3.Dengan melaksanakan tahapan-tahapan dalam PTK, guru mampu memperbaiki proses pembelajaran melalui suatu kajian yang dalam terhadap apa yang terhadap apa yang terjadi di kelasnya.
4.Pelaksanaan PTK tidak menggangu tugas pokok seorang guru karena dia tidak perlu meninggalkan kelasnya.
5.Dengan melaksanakan PTK guru menjadi kreatif karena selalu dituntut untuk melakukan upaya-upaya inovasi sebagai implementasi dan adaptasi berbagai teori dan teknik pembelajaran serta bahan ajar yang dipakainya.
6.Penerapan PTK dalam pendidikan dan pembelajaran memiliki tujuan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktek pembelajaran secara berkesinambungan sehingga meningkatan mutu hasil instruksional; mengembangkan keterampilan guru; meningkatkan relevansi; meningkatkan efisiensi pengelolaan instruksional serta menumbuhkan budaya meneliti pada komunitas guru.

Hakikat Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pertama kali diperkenalkan oleh ahli psikologi sosial Amerika yang bernama Kurt Lewin pada tahun 1946. Inti gagasan Lewin inilah yang selanjutnya dikembangkan oleh ahli-ahli lain seperti Stephen Kemmis, Robin McTaggart, John Elliot, Dave Ebbutt, dan sebagainya.
PTK di Indonesia baru dikenal pada akhir dekade 80-an. Oleh karenanya, sampai dewasa ini keberadaannya sebagai salah satu jenis penelitian masih sering menjadikan pro dan kontra, terutama jika dikaitkan dengan bobot keilmiahannya. Menurut Harjodipuro bahwa PTK adalah suatu pendekatan untuk memperbaiki pendidikan melalui perubahan, dengan mendorong para guru untuk memikirkan praktik mengajarnya sendiri, agar kritis terhadap praktik tersebut dan agar mau utuk mengubahnya. PTK bukan sekedar mengajar, PTK mempunyai makna sadar dan kritis terhadap mengajar, dan menggunakan kesadaran kritis terhadap dirinya sendiri untuk bersiap terhadap proses perubahan dan perbaikan proses pembelajaran. PTK mendorong guru untuk berani bertindak dan berpikir kritis dalam mengembangkan teori dan rasional bagi mereka sendiri, dan bertanggung jawab mengenai pelaksanaan tugasnya secara profesional.
Jenis Penelitian Tindakan Kelas
Ada empat jenis PTK, yaitu: (1) PTK diasnogtik, (2) PTK partisipan, (3) PTK empiris, dan (4) PTK eksperimental (Chein, 1990). Untuk lebih jelas, berikut dikemukakan secara singkat mengenai keempat jenis PTK tersebut.
PTK Diagnostik; yang dimaksud dengan PTK diagnostik ialah penelitian yang dirancang dengan menuntun peneliti ke arah suatu tindakan. Dalam hal ini peneliti mendiagnosia dan memasuki situasi yang terdapat di dalam latar penelitian. Sebagai contohnya ialah apabila peneliti berupaya menangani perselisihan, pertengkaran, konflik yang dilakukan antar siswa yang terdapat di suatu sekolah atau kelas.
PTK Partisipan; suatu penelitian dikatakan sebagai PTK partisipan ialah apabila orang yang akan melaksanakan penelian harus terlibat langsung dalam proses penelitian sejak awal sampai dengan hasil penelitian berupa laporan. Dengan demikian, sejak penencanan panelitian peneliti senantiasa terlibat, selanjutnya peneliti memantau, mencacat, dan mengumpulkan data, lalu menganalisa data serta berakhir dengan melaporkan hasil panelitiannya. PTK partisipasi dapat juga dilakukan di sekolah seperti halnya contoh pada butir a di atas. Hanya saja, di sini peneliti dituntut keterlibatannya secara langsung dan terus-menerus sejak awal sampai berakhir penelitian.
PTK Empiris; yang dimaksud dengan PTK empiris ialah apabila peneliti berupaya melaksanakan sesuatu tindakan atau aksi dan membukakan apa yang dilakukan dan apa yang terjadi selama aksi berlangsung. Pada prinsipnya proses penelitinya berkenan dengan penyimpanan catatan dan pengumpulan pengalaman penelti dalam pekerjaan sehari-hari.
PTK Eksperimental; yang dikategorikan sebagai PTK eksperimental ialah apabila PTK diselenggarakan dengan berupaya menerapkan berbagai teknik atau strategi secara efektif dan efisien di dalam suatu kegiatam belajar-mengajar. Di dalam kaitanya dengan kegitan belajar-mengajar, dimungkinkan terdapat lebih dari satu strategi atau teknik yang ditetapkan untuk mencapai suatu tujuan instruksional. Dengan diterapkannya PTK ini diharapkan peneliti dapat menentukan cara mana yang paling efektif dalam rangka untuk mencapai tujuan pengajaran.
Langkah-Langkah PTK
Melaksanakan PTK, memerlukan perencanaan dan persiapan yang matang, agar hasil yang diperoleh dari PTK yang dilaksanakan mencapai hasil yang optimal. Menurut Zainal Aqib dkk, merumuskan langkah – langkah PTK sebagai berikut :
 Tahap 1 : Tahap Perencanaan
Dalam perencanaan PTK, terdapat tiga dasar, yakni :
 Identifikasi masal
Merumuskan masalah
Pemecahan masalah
Tahap 2 : Acting (pelaksanaan)
Tahap 3 : Observation (pengamatan)
Tahap 4 : Refleksi
Tambahan : Siklus – siklus dalam PTK
PERMASALAHAN

Bagaimana cara agar PTK yang dilakukan pada siang hari mnejadi kondusif karena pada saat kami melakukan observasi diSMAN9 kota jambi suasana kelas kurang kondusif dan banyak siswa yang kurang memperhatikan padahal kami sudah menggunakan media dan model yang menarik?

4 komentar:

  1. dapat saja dilakukan dengan pemberan games pada saat pembelajaran sehingga siswa menjadi semangat belajar dan tidak mengantuk pada saat jam pembelajaran siang hari

    BalasHapus
  2. saya juga merasakan apa yang anda rasakan saudari yelda, dimana ketika itu saya menjadi guru modelnya, saya merasa sangat kesulitan untuk menkondisikan kelas yang gaduh dan siswa yang acuh tak acuh dengan materi yang diajarkan. pada saat itu sebenarnay model dan media yang saya gunakan saya pikir sudah cukup menarik, hanya saja mungkin saya kurang mampu mengelola kelas. mungkin pada saat itu seharusnya saya bisa mengajak siswa untuk melakukan senam-senam ringan untuk membuat siswa fresh kembali, dan dapat fokus dengan materi yang diajarkan saat itu.

    BalasHapus
  3. menurut saya dapat dilakukan sedikit ICE BREAKING atau sebuah kegiatan untuk reflesi otak dapat berupa games dan cerita-cerita motivasi. memutarkan vidio animasi mungkin atau vidio yang motvasi.

    BalasHapus
  4. jadi, suasana yang kurang kondusif terjadi karena siswa sudah mulai lelah belajar sehingga seorang guru harus pandai dalam membaca situasi jika keadaan ini terus dibiarkan maka proses belajar tidak akan maksimal. sebagai guru kita harus memiliki banyak cara dalam menghadapi situasi seperti ini sehingga siswa menjadi fokus belajar lagi. salah satunya yaitu dengan melakukan orientasi yaitu mengajak siswa untuk move on atau mengalihkan pikiran siswa dari kegiatan sebelum proses pembelajaran terjadi. selain itu juga dapat dilakukan games-games atau refleksi otak yang dapat memotivasi siswa dalam proses pembelajaran.

    BalasHapus